Martabak Manis (tanpa santan)

tekstur Waktu browsing-browsing tentang martabak manis, baru menyadari ternyata ada 2 versi martabak manis. Dengan santan dan tanpa santan. Setelah mencoba versi tanpa santan ini, kesimpulannya, saya memilih martabak manis tanpa santan. Selain mengurangi lemak dari santan, bahan bakunya relatif selalu tersedia di dapur pemalas. Biasanya santan dibeli kalau memang ada perlunya, sedangkan tepung, gula dan telur selalu ada dirumah. Untuk baking powder dan yeastnya tentu saja masih ada banyak sejak bikin donat waktu itu. Sedangkan bikarbonasnya pernah beli waktu mau bereksperimen bersih-bersih menggunakan bikarbonas :).

Resepnya dimodifikasi dari blog mbak Dewi Anwar, seperti biasa, ukurannya menggunakan gelas ukur dan diaduk tanpa mikser (walaupun petunjuk aslinya bilang pake mikser). Oh ya, ukuran ini untuk 1 loyang saja, karena saya tidak masak banyak-banyak, ga baik untuk berat badan kalau bikin banyak-banyak hehhe.

Aduh maaf, jadi melantur, ini resepnya:

Bahan1 :

  • Tepung 3/4 cup
  • Gula 1 sdm munjung
  • Baking powder 1/8 sdt
  • Garam secukupnya
  • Air 3/4 cup
  • Yeast 1 sdt

Bahan 2:

  • Telur 1 butir
  • Bikarbonas 1/8 sdt
  • Gula 1 sdm

Oke, cara membuatnya silakan liat gambar 🙂

1. campurkan bahan1, aduk ratabahan1  2. Kembangkan adonan (1-2 jam)bahan1setelah2jam 3. Aduk lepas bahan 2(bikarbonas diakhir)
bahan2
4. Campur semua bahanbahan1 2 5. Aduk rata siap dituang ke loyangsiapuntukdimasak 6. Putar loyang supaya ada pinggiranpinggiran
7. Jangan lupa api kecil senantiasa
apikecil
8. Tunggu adonan berlubangberlubang 9. Taburi gula secukupnyataburigula
10. Tutup loyang dan tunggu sampe keringtutup 11. Angkat setelah agak keringangkat 12. Isi sesuai selera dan sajikanisidansiapsaji

Sekedar catatan, pada saat mencampur bahan 1, yeast dimasukkan belakangan, demikian juga dengan bikarbonas.

Oh ya, sebagai orang yang ga biasa masak kue, saya sempat bingung apa bedanya baking powder dengan bikarbonas. Nemu link ini nih, jadi lebih jelas bedanya. Awalnya sih kirain sama-sama aja.

Kalau ditanya lebih suka mana versi martabak dengan santan atau tanpa santan? jawabnya saya lebih suka tanpa santan. Karena gulanya relatif sedikit dan bisa dikurangi sesuai selera. Untuk isi yang jadi favorit Joe tentunya susu dan keju. Oh ya, kalau Anda tidak mau repot memarut keju, salah satu cara menyiasatinya adalah dengan keju lembar. Kalau kita masukkan ke dalam martabak yang masih panas dan baru diangkat, maka keju lembar tersebut akan mencair dan rasanya lebih sedaaaaap hehehe.

Oke, selamat berkreasi dengan martabak manis 🙂

Martabak Manis (dengan santan)

martabak-siapsajiSetelah berhasil masak donat, jadi kepikiran pengen bikin cemilan lain yang gampang dan ga butuh banyak peralatan dapur. Sampai sekarang peralatan dapur pemalas tetap ga nambah, ukuran dapurnya juga masih segitu aja dan yang paling prihatin, kompornya juga cuma satu kompor listrik yang udah dilengkapi dengan teflonnya sehingga tidak bisa diganti dengan wajan lain tentunya :p. Untungnya wajan tersebut pas untuk masak martabak, jadi ga perlu beli pan khusus masak martabak deh.

Waktu lagi ngobrol-ngobrol dengan sepupu, dikasih link ke situs yang berisi begitu banyak makanan menggoda dan salah satunya martabak ini multiply mbak KrisD,

Oke, dari resep yang ada di situs mbak KrisD, saya modifikasi dengan mengurangi jumlah adonan juga (untuk satu loyang saja). Karena kalau bikin banyak juga ujung-ujungnya gemuk berdua doang, mau ngasih ke orang kasian juga kalau ntar ternyata rasanya kurang sip hehe.

Bahan :

Ingredients:
1 cup tepung terigu
3/4 cup santan kental (saya pake santan kotakan yang siap pakai)
1 butir telur ayam
1/4 cup gula pasir

biang:
1sendok teh yeast instant
1/2 sendok teh baking powder
1 pinch(jumput) garam atau secukupnya lah

Cara membuat, seperti yang disarankan di situs mbak KrisD, tapi ada beberapa catatan:

saya menggunakan yeast instan fermipan yang mana dituliskan tidak perlu dikembangkan lagi dan campur saja ke dalam adonan langsung, tapi demi mengikuti resep, saya tetep mengembangka yeastnya (lagi malas riset dulu, jadi ya..kalau ada yang lebih tau mengenai hal ini, saya minta tuliskan di comment yah).

martabak-adonanSaya mengembangkan yeast ini kira-kira setengah jam (sambil ditinggal kerja soalnya hehe). Lalu ditempat terpisah saya aduk telur dan gula sampai agak kembang. Saya ga punya mikser, jadi ya pakai tangan aja itung-itung olahraga. setelah itu campurkan santan, tepung ke dalam adonan, aduk rata. Terakhir campurkan garam dan baking powder ke dalam yeast yang sudah mengembang, lalu segera campurkan ke adonan tepung. Aduk sampai rata kira-kira 20 menit (dipetunjuk resepnya sih 30 menit, tapi kelamaan ah, cape :P). Lalu diamkan saja adonan sambil kerja lagi :D.

martabak-dimasakKira-kira sejam kemudian, saya panaskan pan saya. Oh ya, karena saya ga bisa melihat "api" kompor saya, saya mengatur supaya tempat masaknya tidak terlalu panas (setengah dari ukuran maksimum kompor listrik saya). Lalu masukkan adonan ke dalam pan(tanpa minyak ataupun mentega karena pan saya anti lengket). Saya putar sedikit supaya ada yang menempel dipinggiran pan, lalu tunggu sampai ada lubang-lubang di adonan. Tutup pan nya dan tunggu sampai kira-kira adonan sudah matang merata.

martabakrisnaAngkat, lalu oles mentega dan beri susu kental manis, lalu diisi sesuai selera. Karena saya sedang kehabisan keju, akhirnya diisi dengan meses sisa bikin donat hehe. Lipat 2 dan potong sesuai ukuran yang diinginkan. Lalu hidangkan dan siap disantap *yummy*

Okeh, cemilan sore hari terhidang dalam waktu relatif singkat. Selamat mencoba 🙂

Donat Pemalas

Donat Sejak sampai di Chiang Mai, baru kemarin beli yang namanya Dunkin Donat (kalau J-Co tambah ga mungkin karena blum sampe ke sini).  Sebelum pulang liburan kemaren, entah kenapa pengen bikin donat, tapi ga mau yang repot-repot.

Setelah melakukan pencarian resep sana sini, ternyata bikin donat itu ada bermacam-macam cara yah. Ada yang pake kentang, ada yang pake isi, dan ada yang harus pake mikser buat mengadonnya.

Berhubung di dapur pemalas belum ada mikser, dan ga punya timbangan buat masak tapi cuma punya gelas ukuran Cup, akhirnya diputuskan memilih resep neng mper dengan mengkonversi ukuran gram jadi CUP. Oh ya pemilihan bahan disesuaikan dengan ketersediaan merek di kota Chiang mai 🙂 dan dari sekian banyak resep membuat donat, resep inilahyang dinilai tidak terlalu repot bikinnya.

Ini resepnya dalam ukuran Cup:

Bahan 1:

1 cup susu UHT (ga punya susu ultra disini, jadi ya susu apapun, yang manis dan putih, dan bukan yang coklat belinya)

1 sachet ragi instan (kebetulan pakenya yang merek fermipan, dijualnya ada sachetan, 1 sachet 11 gram jadi pas banget kan 🙂

2 1/3 cup terigu (makenya all purpose flour, ga ngerti apa bedanya terigu cakra dengan terigu biasa)

1/2 sdt garam halus (atau dengan kata lain garam secukupnya)

Bahan 2:

1/4 cup gula halus

1 butir kuning telur

1/2 cup terigu (terigu yang sama dengan bahan 1)

1/4 cup mentega (kebetulan beli menteganya yang ukuran 120 gr, jadi bisa juga langsung dibagi 2 gitu aja :))

Bahan 3: minyak untuk menggoreng

Cara membuat:

Campurkan semua bahan 1 sampai rata, dan ulen sampai ga nempel di tangan (kalis). Gunakan tangan saja untuk mengadonnya.adonan 1 yang sudah kalis disisihkanadonan 1 setelah mengembang sekitar 2 kali ukuran semula

 

 

Sisihkan adonan 1 ini dengan cara menutupnya dengan kain (saya sih pakai serbet bersih), biarkan sampai adonan mengembang kira-kira 2 kali ukuran semula (kira-kira 30 menit sampai 1 jam).

Campurkan bahan 2 ke tengah adonan 1, lalu aduk lagi dengan tangan sampai kalis. Diamkan 10 menit.

masukkan bahan 2 ke bahan 1 yang sudah mengembang

gunakan tangan untuk mengadon

 

 

 

 

 

cetak berbentuk donat (saya menggunakan tangan saja, manual, caranya ambil adonan sedikit, bentuk bulatan, pipihkan dengan 2 telapak tangan, lobangin kira-kira ditengahnya, lalu putar-putar adonan itu dengan jari seperti memutar karet gelang, perhatikan saja apakah lobang yang ingin dibuat cukup besar atau bagaimana).

Sambil mencetak, anda bisa liat bahwa donat yang sudah dicetak akan mengembang lagi, donat yang sudah dicetak yang sudah mengembag siap untuk digoreng. cetakan donat sebelum digoreng

Panaskan minyak dengan api sedang jangan terlalu panas, lalu masukkan adonan donat yang sudah dicetak dan mulai mengembang, gunakan api sedang untuk menggoreng.

Balik  donat setelah agak berwarna kekuningan. Lalu setelah warnanya kuning keemasan merata, angkat donat dari penggorengan. Oh ya, sedikit tips, gunakan bantuan sumpit untuk membalik dan mengangkat donat, lebih mudah daripada menggunakan spatula.

Oke, setelah donat agak dingin, barulah kita hias donatnya sesuai selera. Yang paling gampang adalah menghiasnya dengan gula halus. Caranya masukkan gula halus sedikit ke plastik bersih, masukkan donat lalu sambil memegang tutup plastiknya, aduk saja donat dan gula halusnya, nanti gulanya nempel sendiri. Kalau toping yang meggunakan meses, bisa di oles mentega sebelum menempelkan meses nya.

Jangan lupa, donat ini emang enak, tapi minyaknya lumayan banyak, untungnya gulanya hanya ada dari topingnya saja (yang ada dalam adonan tidak seberapa). Kalau Anda sedang berdiet, mungkin sebaiknya mengurangi makan donat :), atau kalau tidak tahan tidak makan donat, ada baiknya gulanya dikurangi dan makannya jangan pakai toping. Dan pastikan donatnya tidak terlalu berminyak :).

So, ga ada alasan lagi untuk bilang: ah masak donat modalnya gede, harus beli mikser dan cetakan donat, atau, ah susah ngehiasnya. Masak donat itu bisa gampang dan ga butuh terlalu banyak peralatan, yang penting emang niatnya sih hehe.

Kering Tempe

Ini percobaan pertama saya bikin kering tempe. Belum pernah seumur-umur bikin kering tempe, tapi entah kenapa kemaren kepikiran rasanya kangen kering tempe. Well, walaupun hasilnya tidak seperti buatan nyokap (karena resepnya aja ngarang bebas), tapi bisa mengobati kekangenan yang ada. Aromanya juga sama banget. Suami saya yang biasanya katanya ga doyan kering tempe aja jadi doyan makan kering tempe. Emang ya, kalau sesuatu yang langka itu jadi lebih berharga.

Kering Tempe

Seperti biasa, dapur pemalas itu suka memodifikasi bumbu sesuai dengan bahan yang tersedia saja dan kurang patuh dengan resep-resep yang diwariskan melalui Google.

Berikut ini cara saya memasaknya:
Bahan utama, digoreng:
– Tempe di potong tipis dan kecil (kira-kira saja)
– Kacang tanah (perbandingan tempe dan kacang tanah sesuai selera saja)

Bumbu di giling halus :
– Bawang Merah 6 siung
– Bawang putih 3 siung (perbandingannya bawang merah lebih banyak dari bawang putih)
– Lengkuas sedikiiiit saja
– Garam secukupnya

Bumbu tambahan:
– Cabe merah diiris serong, sesuai selera pengen sepedas apa
– Gula jawa secukupnya diiris halus
– Asam tamarind (asam jawa) ambil airnya sekitar 2 sendok atau tergantung selera mau seasam apa
– Gula pasir sedikit
– Daun jeruk nipis untuk aroma
– Air secukupnya

Cara memasak :
– kacang tanah dan tempe di goreng terpisah, sisihkan (kalau punya ikan teri boleh juga tambah ikan teri)
– Bumbu giling halus
– Panaskan minyak sedikit untuk menumis, tumis bumbu yang sudah digiling halus sampai wangi, masukkan cabe yang sudah dipotong serong
– Tambahkan air asam ke dalam bumbu tumis yang sudah wangi
– Tambahkan gula jawa yang diiris, aduk sampai rata tapi jangan terlalu lama nanti jadi lengket, tambahkan air bila dirasa perlu
– Masukkan daun jeruk nipis untuk menambah aroma wangi
– Masukkan tempe dan kacang yang sudah digoreng kering, ratakan bumbunya, tambahkan gula pasir diatasnya.

Saya yakin dari jarak yang cukup jauh orang-orang sudah tergoda mencium aroma masakan Anda 🙂 hehehe.. Sebenarnya mengingat step memasak kering tempe ini sangat banyak, ini bukan jenis masakan pemalas (termasuk kalau Anda seperti saya yang harus membikin tempenya dari kedele).

Tapi.. kering tempe ini bisa disimpan berhari-hari dan menjadi cemilan. Jadi bukan jenis masakan yang sekali masak habis, tapi sekali masak untuk beberapa kali makan (sehingga ga harus sering-sering masak). Untuk alasan itu, saya rasa masakan ini jadi masuk kategori masakan pemalas juga.

Tempe Mendoan

Tempe Mendoan Ceritanya kemaren ketagihan bikin tempe di Chiang Mai. Tapi kok ya kalau tempe goreng biasa rasanya kurang variasi. Waktu browsing-browsing nemu ide tempe mendoan ini. Ternyata pada dasarnya mirip dengan tempe goreng tepung yang selama ini saya bikin, tapi ya ada beda bumbunya dikit.

Berikut ini resep hasil eksperimen dari beberapa hasil browsing dan di sesuaikan dengan persediaan bahan di dapur pemalas 🙂

  • Tempe diiris tipis (sekitar 50 mm)
  • Bumbu giling halus : Bawang putih 5 siung, ketumbar dan garam secukupnya,
  • Bumbu lainnya: daun bawang iris agak kasar, tepung terigu dan air secukupnya

Cara membuat: Campur bumbu giling halus dan bumbu lainnya dan tambahkan air sedikit demi sedikit. Pastikan tidak terlalu encer dan juga tidak terlalu kental. Masukkan tempe yang sudah diiris tipis, biarkan beberapa menit supaya bumbunya meresap.

Panaskan minyak goreng, dan goreng deh tempe yang sudah dibumbui. Angkat sebelum terlalu kering.

Nyam-nyam, rasanya cukup berbeda dibandingkan tempe goreng tepung biasa. Biasanya cuma pake bawang putih doang soalnya, kali ini ada rasa ketumbar dan daun bawangnya. Oh ya, gorengnya jangan terlalu lama, karena ide tempe mendoan ini adalah tempe yang tidak begitu kering digorengnya.

Kalau mau lebih sedap lagi, gunakan tempe yang dibuat dengan menggunakan daun bukan yang di buat menggunakan plastik. Saya sih di sini selalu bikin tempe pake bungkus plastik, belum belajar gimana cara membungkus menggunakan daun. Sudah nemu sih tempat beli daun pisangnya, tapi…nanti belajar dulu dari mertua hehehe.

Telur Dadar Istimewa ala Pemalas

telur dadar
Salah satu bahan makanan yang harus selalu tersedia di dapur pemalas adalah telur. Untuk hari-hari di mana saya sudah kehabisan ide mau masak apa, salah satu pilihan adalah telur. Ada berbagai cara mengolah telur selain masak telur tomat yang pernah saya tuliskan, yaitu bisa direbus, diceplok, atau didadar.

Dari berbagai cara mengolah telur yang sederhana, saya paling suka telur didadar, karena saya suka telur yang matang sedangkan telur rebus dan telur ceplok kadang2 kuningnya tidak matang. Di Thailand sini, salah satu variasi masak telur dadar adalah dicampur dengan daging kornet babi. Lalu ada lagi telur dicampur tepung dicampur kerang yang disebut hoi thoot. Saya tidak tau bumbu pastinya hoi thoot apa, tapi dari hoi thoot dan dari telur dadar campur daging dan pengalaman masak bakwan, tiba-tiba kemarin saya terinspirasi mencampur sayur, dan tepung ke dalam telur yang akan didadar. Ya hitung-hitung membuat telur dadar menjadi sesuatu yang agak istimewa dibandingkan telur dadar biasanya (biar ga ketauan pemalasnya hehehe). Continue reading

Membuat Tempe

Sejak tinggal di Chiang Mai, saya jadi semakin menghargai tempe. Makanan khas Indonesia yang harganya murah tetapi kaya gizi dan tidak ada di sini! Waktu pulang liburan kemarin saya bertekat untuk belajar bikin tempe sendiri. Bermodalkan ragi yang masih nempel di daun yang saya bawa ke Chiang Mai, saya bereksperimen dengan petunjuk dari mama mertua. Ternyata membuat tempe tidak terlalu sulit tetapi butuh kesabaran.
Tempe

Berikut ini petunjuk membuat tempe sendiri:
Bahan :
kacang kedelai, tepung beras dan laru (ragi tempe).

Cara :
1. Pilih kacang kedelai yang bagus (tidak terlalu muda dan tidak busuk)
2. Cuci bersih lalu rebus sampai empuk
3. Dinginkan, cuci sambil berusaha mengupas kulitnya, rendam sekitar 12 – 20 jam
4. Cuci kedelai yang sudah di rendam, kali ini pastikan semua kulitnya sudah terkupas dan lebih baik kalau kedelainya terbelah
5. Rebus lagi kedelainya sampai benar-benar empuk. Dinginkan, lalu angin-anginkan agar kedelainya kering
6. Campur sampai rata kedelai dengan ragi dan sedikit tepung beras (sekitar 2 sendok)
7. Masukkan kedelai yang sudah di campur ragi dan tepung beras ke dalam plastik yang sudah di tusuk-tusuk. Pastikan plastik di lubangi atas dan bawahnya dan beri lubang cukup banyak
8. Simpan di tempat kering dan gelap pada suhu kamar (jangan terlalu dingin kamarnya) dan tunggu sekitar 36 – 48 jam.

Ciri tempe yang “berhasil” :
– ada lapisan putih di sekitar kedelai
– pada saat di potong, tempe tidak hancur

Perlu diperhatikan agar tempe berhasil alat yang dipergunakan untuk membuat tempe sebaiknya di jaga kebersihannya. Pastikan alat memasak tidak berbau sabun. Menjaga kebersihan pada saat membuat tempe ini perlu karena fermentasi tempe hanya terjadi pada lingkungan yang higienis.

Percobaan pertama saya kemarin tempenya kebanyakan ragi, hasilnya agak berbau alkohol (tapi tidak berlebihan). Hal ini tidak berbahaya dan tempe bisa di makan dan rasanya tetap enak.

Buat teman-teman yang masih dapat menikmati tempe dengan mudah, pesan saya: hargailah tempe, kalau udah susah di dapat pasti deh kangen ama makanan satu ini 🙂

Oseng Buncis pake Telur

Sehubungan dengan kepindahan ke kota yang baru, otomatis perlengkapan dapur juga berubah. Kalau kemarin sudah mulai rajin ngulek2 bumbu dan tidak terlalu mengandalkan bumbu instan, kali ini kembali lagi dengan tidak ada ulekan bahkan tidak ada food processor. Karena sudah buntu dengan ide masakan dan bosan dengan jenis yang itu-itu saja, kali ini mencoba oseng buncis jaman masih kost dulu. Intinya sih hampir sama dengan tumisan, tapi ditambah telur

Bahan: Buncis, Telur, Tomat Continue reading

Sayur Santan (Lodeh?)

Waktu mertua datang ke rumah, beliau beli terong tapi gak sempat dimasak. Setelah beberapa hari bingung mau diapain terongnya, akhirnya nanya ke mertua. Dikasih saran dibuat sayur lodeh saja. Hmm… pernah sih diajarin, tapi tidak menyimak bumbunya apa saja. Akhirnya bingung…ngung..ngung. Coba search di internet… ada berbagai resep sayur lodeh dengan bumbu yang berbeda-beda. Bingung kan!. Akhirnya..bereksperimen bikin sayur sendiri, ga tahu apakah ini bisa dikategorikan sayur lodeh, tapi untuk tidak mengelirukan, kita sebut sayur santan saja.

Bahan bumbu digiling:
4 Bawang putih
5 Bawang merah
3 Cabe merah
2 Cabe rawit
1/2 cm kencur
1/2 cm kunyit
Garam secukupnya

Bumbu tambahan:
3 lembar daun salam
1 batang sereh di keprok Continue reading