Telur Tomat

Telur Tomat
Setelah sekian lama, masak telur tomat lagi di Chiang mai. Ya, biasanya malas aja nyimpam sereh dan jahe di kulkas karena 2 bumbu itu bumbu yang jaraaang sekali digunakan, dan kalau beli di supermarket ga bisa beli dikit doang.

Kemarin waktu belanja ke pasar tradisional, ngelihat bumbu ini di jual dengan sangat murah dan cuma sedikit saja, ya udah deh beli. Memang sih masak telur tomat tanpa sereh dan jahe bisa saja, tapi aroma dan rasanya kurang mantap. Jadi terinspirasi nih, bikin telur tomat plus mie instan, pasti deh nikmat.

Oh ya, kalau mau tau resepnya, lihat postingan sebelumnya saja ya.

Kering Tempe

Ini percobaan pertama saya bikin kering tempe. Belum pernah seumur-umur bikin kering tempe, tapi entah kenapa kemaren kepikiran rasanya kangen kering tempe. Well, walaupun hasilnya tidak seperti buatan nyokap (karena resepnya aja ngarang bebas), tapi bisa mengobati kekangenan yang ada. Aromanya juga sama banget. Suami saya yang biasanya katanya ga doyan kering tempe aja jadi doyan makan kering tempe. Emang ya, kalau sesuatu yang langka itu jadi lebih berharga.

Kering Tempe

Seperti biasa, dapur pemalas itu suka memodifikasi bumbu sesuai dengan bahan yang tersedia saja dan kurang patuh dengan resep-resep yang diwariskan melalui Google.

Berikut ini cara saya memasaknya:
Bahan utama, digoreng:
– Tempe di potong tipis dan kecil (kira-kira saja)
– Kacang tanah (perbandingan tempe dan kacang tanah sesuai selera saja)

Bumbu di giling halus :
– Bawang Merah 6 siung
– Bawang putih 3 siung (perbandingannya bawang merah lebih banyak dari bawang putih)
– Lengkuas sedikiiiit saja
– Garam secukupnya

Bumbu tambahan:
– Cabe merah diiris serong, sesuai selera pengen sepedas apa
– Gula jawa secukupnya diiris halus
– Asam tamarind (asam jawa) ambil airnya sekitar 2 sendok atau tergantung selera mau seasam apa
– Gula pasir sedikit
– Daun jeruk nipis untuk aroma
– Air secukupnya

Cara memasak :
– kacang tanah dan tempe di goreng terpisah, sisihkan (kalau punya ikan teri boleh juga tambah ikan teri)
– Bumbu giling halus
– Panaskan minyak sedikit untuk menumis, tumis bumbu yang sudah digiling halus sampai wangi, masukkan cabe yang sudah dipotong serong
– Tambahkan air asam ke dalam bumbu tumis yang sudah wangi
– Tambahkan gula jawa yang diiris, aduk sampai rata tapi jangan terlalu lama nanti jadi lengket, tambahkan air bila dirasa perlu
– Masukkan daun jeruk nipis untuk menambah aroma wangi
– Masukkan tempe dan kacang yang sudah digoreng kering, ratakan bumbunya, tambahkan gula pasir diatasnya.

Saya yakin dari jarak yang cukup jauh orang-orang sudah tergoda mencium aroma masakan Anda 🙂 hehehe.. Sebenarnya mengingat step memasak kering tempe ini sangat banyak, ini bukan jenis masakan pemalas (termasuk kalau Anda seperti saya yang harus membikin tempenya dari kedele).

Tapi.. kering tempe ini bisa disimpan berhari-hari dan menjadi cemilan. Jadi bukan jenis masakan yang sekali masak habis, tapi sekali masak untuk beberapa kali makan (sehingga ga harus sering-sering masak). Untuk alasan itu, saya rasa masakan ini jadi masuk kategori masakan pemalas juga.

Tempe Mendoan

Tempe Mendoan Ceritanya kemaren ketagihan bikin tempe di Chiang Mai. Tapi kok ya kalau tempe goreng biasa rasanya kurang variasi. Waktu browsing-browsing nemu ide tempe mendoan ini. Ternyata pada dasarnya mirip dengan tempe goreng tepung yang selama ini saya bikin, tapi ya ada beda bumbunya dikit.

Berikut ini resep hasil eksperimen dari beberapa hasil browsing dan di sesuaikan dengan persediaan bahan di dapur pemalas 🙂

  • Tempe diiris tipis (sekitar 50 mm)
  • Bumbu giling halus : Bawang putih 5 siung, ketumbar dan garam secukupnya,
  • Bumbu lainnya: daun bawang iris agak kasar, tepung terigu dan air secukupnya

Cara membuat: Campur bumbu giling halus dan bumbu lainnya dan tambahkan air sedikit demi sedikit. Pastikan tidak terlalu encer dan juga tidak terlalu kental. Masukkan tempe yang sudah diiris tipis, biarkan beberapa menit supaya bumbunya meresap.

Panaskan minyak goreng, dan goreng deh tempe yang sudah dibumbui. Angkat sebelum terlalu kering.

Nyam-nyam, rasanya cukup berbeda dibandingkan tempe goreng tepung biasa. Biasanya cuma pake bawang putih doang soalnya, kali ini ada rasa ketumbar dan daun bawangnya. Oh ya, gorengnya jangan terlalu lama, karena ide tempe mendoan ini adalah tempe yang tidak begitu kering digorengnya.

Kalau mau lebih sedap lagi, gunakan tempe yang dibuat dengan menggunakan daun bukan yang di buat menggunakan plastik. Saya sih di sini selalu bikin tempe pake bungkus plastik, belum belajar gimana cara membungkus menggunakan daun. Sudah nemu sih tempat beli daun pisangnya, tapi…nanti belajar dulu dari mertua hehehe.

Belanja di Pasar Tradisional

Dulu… selain malas memasak, saya juga malas berbelanja ke pasar. Sebenarnya saya malas berangkat ke pasarnya, kalau sudah sampai di pasar, saya bisa berlama-lama melihat hal-hal yang ada di pasar. Awal tinggal di Chiang Mai, saya beberapa kali mengunjungi pasar tradisional yang cukup dekat dari tempat tinggal kami. Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali mengunjungi pasar tradisional. Rasanya setelah sekian lama berbelanja di supermarket, dan kembali lagi berbelanja di pasar, saya merasa takjub dengan perbedaan harga yang sangat signifikan. Harga di pasar tradisional bisa sepertiga dari harga supermarket, kesegarannya juga banyak lebih baik di pasar daripada di supermarket.

Ada banyak jenis sayuran yang terlihat lebih segar di supermarket padahal mungkin sudah berhari-hari dipajang di sana. Ada juga jenis sayuran yang memang lebih baik beli di Supermarket. Tapi untuk bumbu dapur seperti bawang putih, bawang merah, jahe, daun bawang, sereh, jahe bahkan tomat memang lebih murah kalau belanja di pasar tradisional. Sayuran yang sudah lama tidak saya beli seperti kangkung, bayam dan tauge juga jelas lebih segar (dan jauh lebih murah) beli di pasar tradisional dibandingkan beli di supermarket.

Oh ya, godaan yang sangat besar berbelanja di pasar tradisional sudah jelas: jajanan pasar, apalagi jajanan pasarnya mengingatkan pada jajanan pasar di Indonesia. Well, sekarang saya sangat menikmati berbelanja di pasar tradisional. Oh ya, keuntungan ekstra buat saya yang tidak tinggal di Indonesia adalah saya bisa mempraktikkan bahasa Thai yang sudah saya pelajari. Wah maaf jadi ngelantur.

Anyway, kalau saya malas memasak di pasar tradisional juga tersedia makanan yang sudah dimasak siap dihidangkan (tapi saya belum pernah beli sih disini). Tips untuk menghemat pengeluaran dan mendapatkan sayuran segar adalah kita harus memilih mana yang sebaiknya beli di pasar tradisional dan mana yang dibeli di supermarket. Bisa aja sih beli semua disupermarket (seperti yang selama ini saya lakukan), tapi sejak saya tahu berapa banyak yang bisa saya tabung dari perbedaan harga yang signifikan, saya bertekat untuk mengurangi belanja di supermarket dan lebih rajin ke pasar tradisional :). Kalaupun sibuk ini dan itu di hari kerja, kan selalu ada weekend untuk berbelanja. Oh ya coba kalau belanjanya weekend, pergi berbelanja dengan suami, pasti jadi lebih menyenangkan. Kita jadi ada yang bantuin bawa belanjaan sekaligus anggap saja rekreasi.

Telur Dadar Istimewa ala Pemalas

telur dadar
Salah satu bahan makanan yang harus selalu tersedia di dapur pemalas adalah telur. Untuk hari-hari di mana saya sudah kehabisan ide mau masak apa, salah satu pilihan adalah telur. Ada berbagai cara mengolah telur selain masak telur tomat yang pernah saya tuliskan, yaitu bisa direbus, diceplok, atau didadar.

Dari berbagai cara mengolah telur yang sederhana, saya paling suka telur didadar, karena saya suka telur yang matang sedangkan telur rebus dan telur ceplok kadang2 kuningnya tidak matang. Di Thailand sini, salah satu variasi masak telur dadar adalah dicampur dengan daging kornet babi. Lalu ada lagi telur dicampur tepung dicampur kerang yang disebut hoi thoot. Saya tidak tau bumbu pastinya hoi thoot apa, tapi dari hoi thoot dan dari telur dadar campur daging dan pengalaman masak bakwan, tiba-tiba kemarin saya terinspirasi mencampur sayur, dan tepung ke dalam telur yang akan didadar. Ya hitung-hitung membuat telur dadar menjadi sesuatu yang agak istimewa dibandingkan telur dadar biasanya (biar ga ketauan pemalasnya hehehe). Continue reading